Minggu, 01 Juni 2014

SANG JELATA & ROPE ACCESS

         Bekerja di ketinggian dengan menggunakan akses tali, yaa...!!! ROPE ACCESS seperti itulah aku mengenal pekerjaanku ini, menurut beberapa sumber yang saya dengar dan sempat saya baca, awalnya teknik kerja ini di kembangkan dari  teknik dalam memanjat dan caving.

         Bekerja di ketinggian dengan menggunakan tali sebagai akses kerja memang bukanlah hal yang biasa dan tidak mudah bagiku, namun dalam pekerjaanku inilah aku mulai banyak belajar "mencoba untuk berfikir positif tentang segala hal yang saya lihat dari ketinggian tempatku bekerja" hanya itulah langkah awal yang membuatku tetap mencoba sebelum menyelesaikan tanggung jawab dari pekerjaanku ini, meski terkadang fikiran fikiran negatif dan rasa takut sesekali terbayang ketika aku sedang bergelatungan pada akses tali tempatku bekerja itu tetapi menurutku di sinilah tempatku belajar tentang rasa takut dan keberanian yang sebenarnya tanpa lawan dan tanpa persaingan, yang ada hanya satu tujuan untuk satu tanggung jawab.
        Terkadang dalam setiap lingkungan tempatku bekerja banyak dari mereka yang melihat dan menanyaiku dengan pertanyaan yang hampir sama :
 
 x        : apa yang kau lakukan di situ?
saya    : iya pak/bu , saya sedang bekerja membersihkan gedung ini "kataku pada mereka"
 x        : "tercengang" haaaaa..! hanya dengan tali apa itu aman?, apa kamu tidak takut?
saya    : "sedikit santai ku jawab" tidak pak/bu, dengan alat yang saya gunakan ini saya  merasa aman kok pak/bu.
x         : "si bapak/ibu sedikit memujiku" Hebat, hanya dengan tali kau bergelatungan membersihkan setiap sisi gedung ini.
saya    : "sedikit tersenyum malu" iya pak, inilah pekerjaanku.
x         : kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu nak, tetap berhati hati nak
saya    : "tersenyum", iya pak/bu kalau begitu saya bekerja dulu.

yah seperti itulah sekian dari banyak pertanyaan pertanyaan yang sama & sempat saya jawab, jika hanya melihat dengan sekilas, memang banyak dari mereka yang menganggap pekerjaan ini kurang aman tetapi dengan latihan & ilmu yang di ajarkan kepada saya, saya merasa apa yang saya kerjakan ini lebih dari aman. memang semua yang saya lakukan terkadang menakutkan, bukan untuk diri saya sendiri tetapi mereka yang melihat saya pun sering berkata yang sama, bahkan tak jarang dari mereka yang melihatku sentak bertanya tentang kematian, tapi "bukankah kematian itu bisa datang kapan saja dan bisa menimpa siapa saja" jadi menurutku berbicara kematian tidaklah harus identik dengan satu hal yang berbahaya, karena berbicara tentang kematian menurutku itu adalah takdir dari Tuhan pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi.


                 




"Belajar dari rasa takut, memahami di mana dan kepada siapa sebenarnya kita harus merasa takut?"
"Rasa takutku adalah semangatku, ku yakini bahwa setiap gerakku adalah kuasaMu"




 Rakyat Jelata : Muhammad Akbar Heriyandi


Kamis, 27 Februari 2014

Rakyat jelata & Twitter

@bukan_Tarzan 
   Puang Boss, seperti itulah saya memberi nama pada akun twitter tersebut, saya memberi nama seperti itu sebenarnya hanya dari imaginasi saya sendiri ketika melihat wajah wajah kusam kami yang udik dengan penampilan yang urakan, berambut panjang, sulit menerima aturan, & sesekali menentang. Sedangkan nama "bukan_tarzan" saya pilih karena saya sadar, saya tak bisa hidup seperti cerita Tarzan yang bisa bertahan hidup di tengah hutan tanpa bergantung pada orang lain, karena bagaimana pun juga saya ini mahluk social seperti kalian.

   Terinspirasi dari mereka yang besar karena kicaun kicaunnya lewat sebuah akun twitter, saya sang jelata ini kemudian mencoba melakukan hal yang sama seprti apa yang di lakukan oleh para sang pengawal inspirasi tersebut, meskipun sang jelata ini selalu di pandang sebelah mata tetapi saya rasa itu bukan halangan untukku menuliskan pendapatku sendiri "bukankah setiap orang memiliki sisi benarnya masing masing", jadi apa yang menurutku benar akan selalu ku tuliskan dalam wadah 140 karakter tersebut, entah itu dari apa yang saya lihat, saya rasakan,dan bahkan saya khayalkan, bahkan terkadang saya menuliskan doa & harapanku dalam wadah tersebut.Bagiku selama yang ku fikir itu kebaikan, selama yang ku tuliskan itu tak mengusik orang, saya rasa itu tak ada salahnya, yang terpenting bagai mana saya mempertanggung jawabkan setiap pendapatku itu, jika pujian yang ku dapatkan maka itu tak akan membuatku tinggi, jika keritikan yang ku terima maka akan ku cerna dan ku pelajari, jika cacian yang mereka berika mungkin akan ku jadikan itu sebagai motivasi.

    Ada banyak perbedaan di atas tanah yang bineka ini, rakyat jelata seperti kami boleh mereka pandang sebelah mata, tapi akan selalu ada cara untuk kami membuktikan bahwa kami tak pantas untuk mereka remehkan. 
(Rakyat Jelata)